Senin, 06 Mei 2013

MOTIVASI BELAJAR DALAM AL-QUR’AN DALAM QUR’AN SURAH AL’ALAQ AYAT 1-5 AL-MUJADALAH AYAT 11

Diposkan oleh kadry BonjolyVEVO di 08.38

 



TUGAS KELOMPOK

MOTIVASI BELAJAR DALAM AL-QUR’AN
DALAM QUR’AN SURAH AL’ALAQ AYAT 1-5
AL-MUJADALAH AYAT 11



NAMA :
KADRI
MELISA NOVITA


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
TADRIS BAHASA INGGRIS (STAIN) BATUSANGKAR
2013







KATA PENGANTAR


Segala puji milik Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang paling baik diantara jalan yang ada didunia ini untuk menuju kepada ridhotillah Tuhan semesta alam.

Dengan ma’unah (pertolongan) Nya, pemakalah dapat menyelesaikan makalah ini. pemakalah berharap agar pembaca dapat memberikan kritik dan saran serta masukan yang membangun guna perbaikan dikemudian hari.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan penulis pada khususnya.



i
 

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.    LATAR BELAKANG
Manusia diciptakan Allah dengan berbagai potensi yang dimilikinya, tentu dengan alasan yang sangat tepat potensi itu harus ada pada diri manusia, sebagaimana sudah diketahui manusia diciptakan untuk menjadi khalifatullah fil ardh. Potensi yang dimiliki manusia tidak ada artinya kalau bukan karena bimbingan dan hidayah Allah yang terhidang di alam ini. Namun manusia tidak pula begitu saja mampu menelan mentah-mentah apa yang dia lihat, kecuali belajar dengan megerahkan segala tenaga yang dia miliki untuk dapat memahami tanda-tanda yang ada dalam kehidupannya. Tidak hanya itu, manusia setelah mengetahui wajib mengajarkan ilmunya agar fungsi kekhalifahan manusia tidak terhenti pada satu masa saja, Dan semua itu sudah diatur oleh Allah SWT.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban dan kebutuhan manusia. Tanpa ilmu manusia akan tersesat dari jalan kebenaran. Tanpa ilmu manusia tidak akan mampu merubah suatu peradaban. Bahkan dirinyapun tidak bisa menjadi lebih baik.
2.    Rumusan Masalah
a.       Bagaiamnakah bentuk asbabunuzul dari Q.S AL’ALAD AYAT 1-5 DAN AL MUJADALAH AYAT 11?
b.      Bagaiman tafsiran ayat dalm surat tersebut?
c.       Dan apa hubunganya dengan pendidikan islam?



ii
 
 
BAB I
PEMBAHASAN
MOTIVASI BELAJAR MENGAJAR DALAM AL-QUR’AN
1.    Pengertian Belajar dan Mengajar
            Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “Belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran berbeda satu sama lain. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (learning is defined as the modification or trengthening of behavior through experiencing).
            Menurut pengertian diatas, belajar adalah merupakan proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengiat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Ada juga yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.
            Sedangkan pengertian mengajar lebih identik kepada proses mengarahkan seseorang agar lebih baik. Didalam ilmu pendidikan islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Atau konsekuensi dari pada pengetahuan yang didapat.

2.    Q.S  AL-‘Alaq ayat 1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
A.     Terjemahan
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
B.       Asbabun Nuzul Q.S Al-‘Alaq
            Dari berbagai refrensi yang telah pemakalah cari seperti kitab asbabunnuzul, pemakalah tidak menemukan adanya asbabunuzul dari Surat AL-‘alaq ini.

C.       Munasabah

Munasabah atau hubungan surat al-‘Alaq dengan surat sebelumnya adalah bahwa dalam surat sebelumnya (surat at-Tin) menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; dan dalam surat ini Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Dalam surat ini juga Allah menyebutkan keadaan di akhirat sebagaimana juga disebutkan pada surat sebelumnya.

D.      Tafsiran Ayat

a.      Menurut Tafsir Jalalain :

1)      (Bacalah) maksudnya mulailah membaca dan memulainya (dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan) semua makhluk.
2)       (Dia telah menciptakan manusia) atau jenis manusia (dari 'alaq) lafal 'Alaq bentuk jamak dari lafal 'Alaqah, artinya segumpal darah yang kental.
3)       (Bacalah) lafal ayat ini mengukuhkan makna lafal pertama yang sama (dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah) artinya tiada seorang pun yang dapat menandingi kemurahan-Nya. Lafal ayat ini sebagai Haal dari Dhamir yang terkandung di dalam lafal Iqra'.
4)       (Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris a.s.
5)       (Dia mengajarkan kepada manusia) atau jenis manusia (apa yang tidak diketahuinya) yaitu sebelum Dia mengajarkan kepadanya hidayah, menulis dan berkreasi serta hal-hal lainnya.[1]

b.      Menurut Tafsir Al Azhar :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (ayat 1). Dari suku kata pertama saja yaitu “bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi Muhammad disuruh untuk membaca wahyu yang akan diturunkan kepada beliau atas nama Allah, Tuhan yang telah menciptakan. Yaitu Menciptakan manusia dari segumpal darah (ayat 2). Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah. Yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan yang setelah 40 hari lamanya, air itu akan menjelma menjadi segumpal darah dan dari segumpal darah itu kelak setelah 40 hari akan menjadi segumpal daging. “Bacalah, dan tuhanmu itu adalah maha mulia” (ayat 3). Setelah pada ayat pertama beliau menyuruh membaca dengan nama Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruh membaca diatas nama Tuhan. Sedang nama Tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah yang Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Kasih dan Saying kepada mahluknya. “Dia yang mengajarkan dengan kalam” (ayat 4). Itulah istimewanya Tuhan itu lagi. Itulah kemulianya yang tertinggi.Yaitu diajarkanya kepada manusia berbagai ilmu, dibukanya berbagai rahasia, diserahkanya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah yaitu dengan qalam. Dengan pena disamping lidah untuk membaca, Tuhanpun mentaksirkan pula bahwa dengan pena ilmu dapat dicatat. Pena itu  kaku dan beku serta tidak hidup namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahami oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu” (Ayat 5). Terlebih dahulu Allah ta’ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatat ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang sudah ada dalam tanganya.[2] Kesimpulan Ayat
Dari Al-quran telah dijelaskan bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan fisik manusia, tidak ada bedanya dengan proses perkembangan dan pertumbuhan pada hewan. Semuanya berproses menurut hukum-hukum dalam alam yang material. Hanya pada kejadian, manusia sebelum makhluk yang disebut manusia itu dilahirkan dari rahim ibunya, Tuhan telah meniupkan roh ciptaannya kedalam tubuh manusia.
Ayat 1-5 (surah al-alaq) menyatakan bahwa manusia dijadikan dari segumpal darah atau menurut pendapat lain‘alaq (sesuatu yang melekat). Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena qalam niscaya tidak banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik. Banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang, pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni, dan penemuan-penemuan mereka.
Manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena “iqra`” haruslah dengan “bismi rabbika”,[3] yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam. Demikian pulan dengan pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Ayat ini juga menjadikan bukti kekuasaan Allah yang menjadikan manusia dari benda mati yang tidak berbentuk dan berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai membaca dan menulis.
E.   Hadits Pendukung

عن ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، فَإِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ ، وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى فَرِيضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَحَداً يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا.  رواه الدارمى والدارقطنى

a.   Terjemahan
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah saw. berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban,  mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’

ْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.) رواه البخاري  ومسلم وأحمد والترمذى والنسائى والدارمى والبيهقى والطبرانى(
a.   Terjemahan
Abdullah bin Amru bin al-Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari semua hamba. Ia mengambil ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga apabila ulama habis, manusia akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka ditanya (oleh umat) lalu berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan (umat).

F.             Analisis Pendidikan
Adapun analisi pendidikan pada ayat ini adalah, diantaranya sebagai berikut :
a.       Pentingnya pandai membaca dan menganalisa bagi peserta didik ummat islam. Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika.
b.      Pentingnya perantara tranformasi ilmu pengetahuan. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
c.       Jaminan ilmu bagi orang yang kerja keras atau sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu[4]. Karena seperti yang dijelaskan pada ayat 3, terlihat jelas bahwa bagi yang membaca dan menuntut ilmu Allah akan mudahkan jalan baginya, karena Allah itu maha pemurah.
d.      Mendorong manusia untuk menggunakan akal pikirannya untuk mempelajari dan membaca pengetahuan yang ada, terutama dalam al-qur’an. [5]

G.           Analisis Pemakalah
1)    Surat al-‘alaq berisi penjelasan tentang perintah membaca dalam arti yang seluas-luasnya, dengan perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara komprehensif.
2)      Surat al-‘alaq berisi penjelasan tentang kekuasaan Allah, bahwa Dia berkuasa untuk menciptakan manusia, memberikan nikmat dan karunia berupa kemampuan membaca. Sifat Allah yang Maha melihat terhadap segala perbuatan yang dilakukan manusia serta berkuasa untuk memberikan balasan yang setimpal.
3)      Surat al-‘alaq berisi tentang perlunya alat dalam melakukan kegiatan dalam upaya mengembangkan dan pemeliharaan ilmu pengetahuan sebagai sarana pendidikan.
3.     Al-Mujadalah Ayat 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11) 

11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

A.    TAFSIR MUFRODAT
تَفَسَّحُوا
:
Maksudnya adalah توسعوا  yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan.
يَفْسَحِ
:
Maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka.
فَانْشُزُوا
:
Maksudnya saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan kepada setiap orang yang datang.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ

Allah akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya.





B.     ASBABUN NUZUL
Di riwayatkan oleh ibn abi hitam dari muqatil bin hibban, ia mengatakan bahwa suatu hari yaitu hari jum’at , Rasulullah SAW berada di shuffah mengadakan pertemuan di tempat yang sempit,dengan maksud menghormati pahlawan perang badar yang terjadi antara kaum muhajirin dan anshar. Beberapa pahlawan perang badar ini terlambat datang, diantaranya shabit dan qais, sehingga mereka berdiri diluar ruanggan. Meraka mengucapkan salam “ Assalamu’alaikum ayyuhan nabi wabarokatu”, lalu nabi menjawabnya. Mereka pun mengucapkan sama kepada orang-orang yang terlebih dahulu datang, dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan badar itu tetep berdiri, menungu tempat yang disediakan bagi mereka tapi tidak ada yang memperdulikanya.melihat kejadian tersebut rasulullah menjadi kecewa lalu menyuruh kedapa orang-orang sekitarnya untuk birdiri. Diantar mereka ada yang berdiri tetapi rasa keenganan nampak di wajah mereka. Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela nabi, sambil mengatakan “demai Allah, Muhammad tidak adil, ada orang ayng datang lebih dahulu datng dengan maksud memproleh tempat duduk didekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk di berikan kepada orang yang datang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini.

C.    .  Munasabah Q.S Al- Mujadalah ayat 11
Menurut analisa kami, munasabahnya terdapat pada ayat 7, 8, 9 yang mana disana dijelaskan bagaiman etika dalam sebuah majelis itu. Pada ayat 7 8 9, ada hala-hal yang dilarang dalam sebuah majelis, kemudia pada ayat 11, dijelaskan anjuran-anjuran yang dilakukan selama dalam majelis.
D.    Tafsir Q.S Al-mujadalah ayat 11
Kata (تفسّحوا) tafassahu dan (افسحوا ) ifsahu terambil dari kata (فسح) fasaha, yakni lapang. Sedang kata (انشزوا) unsyzu terambil dari kata (نشوز) nusyuz, yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu atau bangkit melakukan satu aktifitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi, jangan lama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabi SAW yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.
Kata ( مجالس) majalis adalah bentuk jamak dari kata ( مجلس) majlis. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad SAW. memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi, yang dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau  yang lemah. Seorang tua non-muslim sekalipun jika Anda-wahai yang muda-duduk di bus atau di kereta, sedang dia tidak mendapat tempat duduk, adalah wajar dan beradab jika Anda berdiri untuk memberinya tempat duduk.
Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki derejat-derajat, yakni yang lebih tinggi daripada yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu.
Tentu saja, yang dimaksud dengan ( الّذين اوتواالعلم) alladzina utu al-‘ilm/ yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berati ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekadar beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok yang kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan, maupun dengan keteladanan. Ilmu yang di maksud oleh ayat di atas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat.[6]
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Ilmu yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ilmu adalah bentuk masdar dari ‘alima, ya’lamu-‘ilman. Menurut Ibn Zakaria, pengarang buku Mu’jam Maqayis al-Lughab bahwa kata ‘ilm mempunyai arti denotatif “bekas sesuatu yang dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya”. Menurut Ibn Manzur ilmu adalah antonim dari tidak tahu (naqid al-jahl), sedangkan menurut al-Asfahani dan al-Anbari, ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu (indrak al-sya’i bi haqq qatib). Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.
E .  Hadits Pendukung
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة رواه مسلم والترمذى وأحمد والبيهقى

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga.

عن أبى دردائ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ رواه الترمذى وأحمد والبيهقى وأبو داود والدارمى

Abu Dada’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari  ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh orang yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.
لا يقم الرجل من مجلسه ولكن تفسحوا وتوسعوا

Artinya:
Janganlah seseorang menyuruh berdiri, dari tempat-tempat duduk temannya yang lain, tetapi hendaklah ia mengatakan: lapangkanlah atau geserlah sedikit.
(H.R. Bukhari Muslim
F.     ANALISIS PENDIDIKAN

1.      Etika Dalam Majlis

Etika dalam majlis ini maksudnya adalah bahwasanya ketika berada dalam suatu majlis, hendaklah kita memberikan kelapangan tempat duduk bagi yang baru datang. Dalam buku pembelajaran Al-Quran Hadits dikatakan bahwasanya yang sempit itu bukanlah tempatnya melainkan hatinya. Tabiat manusia yang mementingkan diri sendiri, membuat enggan memberikan tempat kepada orang yang baru datang, jadi dalam hal ini hati sangat berperan.

Berangkat dari kata  Tafassahu dan Afsahu terambil dari kata Fasaha yakni lapang. Sedang kata unsyuzu terambil dari kata nusyuz yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah.[7]

2.      Manfaat beriman dan berilmu pengetahuan

Selanjutnya dalam ayat tersebut dijelaskan ” Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu, dan orang –orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Artinya ada orang yang akan diangkat derajatnya oleh Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, dengan bebrapa derajat.

Orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana. Iman dan ilmu tersebut akan membuat orang mantap dan agung. Tentu saja yang dimaksud dengan / yang diberi pengetahuan. Ini berarti pada ayat tersebut membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar berimnan dan beramal saleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajatrannya kepada pihak lain baik secara lisan, tulisan maupun dengan keteladanan.[8]

Sedang Hasan Al-Basri berkata, “Orang yang berilmu ialah orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun dia tidak mengetahui-Nya. Dan menyukai apa yang disukai oleh Allah dan menghindari apa yang dimurkai Allah[9].

Kita bisa saksikan, orang-orang yang dapat menguasai dunia ini adalah orang-orang yang berilmu, mereka dengan mudah mengumpulkan harta benda, mempunyai kedudukan dan dihormati orang. Ini merupakan suatu pertanda bahwa Allah mengangkat derajatnya.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan jika ilmu tersebut dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.. tetapi jika pengetahuan yang dimiliki tersebut hanya digunakan untuk mencelakakan atau membahayakan orang lain maka hal tersebut tidak dibenarkan.

Jadi antara iman dan ilmu harus selaras dan seimbang, sehingga kalau menajdi
ulama, ia menjadi ulama yang berpengetahuan luas, kalau ia menjadi dokter, maka akan menajdi dokter yang yang beriman dan sebagainya.
Pada akhir ayat juga dijelaskan bahwasanya Allah itu selalu melihat apa yang kamu kerjakan, jadi tidak ada yang samar dihadapan Allah. Dan Allah akan mebalas semua apa yang kita kerjakan. Orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang jahat akan dibalas sesuai dengan kejahatannya.


3. Contoh semangat keilmuan

Adapun yang dapat dijadikan sebagai contoh dari semangat keilmuan adalah:

a.          Rasulullah itu sendiri merupakan contoh teladan yang tidak mengenal lelah dalam mencari ilmu, Beliau senantiasa membaca dan menimba ilmu dari alam rasa dan yang semuanya bersumber dari Allah SWT.
b.         Apabila ada suatu majlis maka bergabunglah karena pasti disana akan didapatkan suatu pengetahuan baru yang akan emnambah wawasan dan referensi sehingga kita dapat mengaplikasikan apa yang didapatkan. Seperti contoh sahabat Nabi yang pulang dari medan perang. Beliau tetap bergabung dalam majlis ilmu yang dilaksanakan oleh Nabi. Dalam dunia kita saat ini yaitu seringlah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang peduli dengan bidang-bidang keilmuan.
c.          Ikutilah jejak para tokoh-tokoh agamawan, ilmuan, tokoh pemikir yang selalu berupaya untuk menciptakan iklim yang baru sehingga saat ini kita dapat menikmatinya dan dimasa mendatang.

Dari ketiga contoh diatas masih banyak lagi contoh-contoh yang lain yang dapat dijadikan sebagai bahan referensi seperti kita yang saat ini tengah duduk diantara teman-teman kita, ini juga merupakan contoh dari semangat keilmuan. Tentunya menjadi renungkan sebuah hadits yang menyuruh kita untuk menuntut ilmu dari buayian hingga keliang lahat.













G.     ANALISIS PEMAKALAH
            Ada beberapa hal yang dijelaskan dalam surat al-mujadalah ayat 11, diantaranya :
1.      Etika dalam memuntut imu
Etika maksudnya disini, ketika dalam proses belajar wajib atas peserta didik untuk mematuhi pendidik (guru), sopan santun dalam menutut ilmu. Dan juga disini kita dituntut saling berbagi dalam menuntut ilmu. Sebagai contoh dalam sebuah majelis ta’lim kita memberikan tempat kepada orang yang baru datang.

2.      Allah akan berikan kedudukan yang mulia bagi orang yang menuntut ilmu
Hal ini sesuai dengan  ayat ” Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu, dan orang –orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Artinya ada orang yang akan diangkat derajatnya oleh Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, dengan bebrapa derajat[10].

H.    KESIMPULANYA
Tidak sama derajat antara orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan mengesakan Allah, dengan orang yang tidak mau menutut ilmu .



I.        
DAFTAR PUSTAKA

M. Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah Juz Amma.
Abi al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahdy al-Naisabury, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al-Fikr, 1311 H/1991 M)
Prof Dr Hamka (1982), Tafsir al-Azhar,Jilid 10 Jakarta : PT Pustaka Panjimas
Shihab, M.Quraish (2002), Tafsir Al-Misbah vol. 13. Jakarta: Lentera Hati
M.Arifin  (1993).  Filsafat Pendidikan Islam jakarta : bumi aksara.
Uhbiyati Nur ( 1999). Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Bandung : Pustaka Setia
http://awalbarri.wordpress.com/2009/02/26/asal-usul-kejadian-manusia-tafsir-suratal alaq,18-09-2012, 09.38
pesantren Persatuan Islam (1991), Tafsir Jalalain Versi2.0, : Tasikmalaya





 

BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
a.       Pentingnya pandai membaca dan menganalisa bagi peserta didik ummat islam. Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika.
b.      Pentingnya perantara tranformasi ilmu pengetahuan. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
c.       Jaminan ilmu bagi orang yang kerja keras atau sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Karena seperti yang dijelaskan pada ayat 3, terlihat jelas bahwa bagi yang membaca dan menuntut ilmu Allah akan mudahkan jalan baginya, karena Allah itu maha pemurah.
d.      Pentingnya penerepan etika yang baik dalam menutut ilmu.
2.      Kritik dan Saran
Pemakalah menyadari dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu pemakalah membutuhkan kritik dan sarah bagi para pembaca demi perbaikan pemakalah kedepamnya. Terimakasih.


17
 
 


[1] Pesantren Persatuan Islam 91, Tafsir Jalalain Versi2.0, Tasikmalaya
[2] Prof Dr Hamka, Tafsir al-Azhar,Jilid 10, hal 8059-8060
[3] Hamka . 1982. Tafsir Al-Azhar. Jakarta : PT Pustaka Panjimas

[4] M.Arifin Filsafat Pendidikan Islam jakarta : bumi aksara. Hal.119
[5] Nur Uhbiyati Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Bandung : Pustaka Setia Hal.53
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 13 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 490-491
[7] Quraish Shihab 2002 hal. 79
[8] Quraish Shihab 2002: hal. 79-80
[9] Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, juz XXII, op.cit., hlm. 219-220
[10] ur Uhbiyati Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Bandung : Pustaka Setia Hal 41

0 komentar:

 

Kadri Bonjoly's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos